Sabtu, 07 Februari 2009
Bu Karen Dirut Pertamina alumni Fisika Teknik ITB Coy
Berikut sedikit tentang beliau..
Nama:
Karen Agustiawan
Lahir:
Bandung, 19 Oktober 1958
Jabatan:
Direktur Hulu PT PERTAMINA (PERSERO)
Pendidikan :
- Sarjana Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB)
Karir:
- Commercial Manager for Consulting and Project Management, Halliburton Indonesia
- Staf Ahli Direktur Utama bidang Hulu PT Pertamina (Persero)
Yah mudah-mudahan Pertamina jadi lebih baik lah..
jangan sampai gejala korupsi merajalela lagi, menjadi bahan tarik-menarik elite politik..
Berdoa saja..
nambah lagi buat kawan2 FT tetap semangat.. ayo bangun pertamina lebih baik.. kalo bisa jadi bersih, peduli, dan profesional.. heheh
Pertamina--Pasti Pas...
Selasa, 03 Juni 2008
Yang Muda Yang Tidak Berdaya (?)
Wajahnya imut seperti remaja ABG kebanyakan. Namun siapa yang menduga kalau pemuda berumur 19 tahun ini istimewa. Letak keistimewaanya bukan karena ia perlente, macho, kaya, keren atau serentetan kriteria menawan ala kehidupan jet z. Tak lain tak bukan karena ia adalah seorang Walikota. Adalah John Tyler seorang mahasiwa yang baru saja masuk di Universitas Oklahoma, berhasil terpilih menjadi seorang Walikota Muskogee, kota di wilayah negara bagian Oklahoma. Dia berhasil mengalahkan rivalnya yang tak lain adalah incumbent Walikota setempat. Yang menakjubkan, John meraih kepercayaan masyarakat dengan perolehan suara 70% !
Penggalan berita tentang John Tyler di atas bukanlah sebuah kebetulan semata tentang bagaimana tokoh muda menjadi tumpuan harapan kepemimpinan. Setidaknya hal tersebut telah digoreskan sejarah akan bukti ilmiahnya. Ambil contoh adalah terpilihnya Leon Bostein sebagai rektor New Hampshire's Franconia College pada tahu 1970. Dia terpilih pada umur 23 tahun, dan tercatat sebagai rektor termuda sepanjang sejarah Amerika. Bukan hanya itu, F.D. Roosevelt berumur 42 tahun menjadi Presiden, JFK 43 tahun menjadi Presiden, Bill Clinton 42 tahun menjadi Presiden, dan Tony Blair 43 tahun menjadi Perdana Menteri. Di Amerika saat ini pun "demam" tokoh muda dibuktikan dengan naik daunya Barrack Obama (46 tahun). Hal ini terbukti dengan perolehan dukungan total yang diperolehnya saat ini sebesar 1.889 melebihi pesaing terketatnya Hillary Clinton sebesar 1.729 yang merupakan figur lama. Sedangkan di Tanah Air kehadiran tokoh muda dalam estafet kepemimpinan ditandai dengan kemunculan Anis Baswedan yang diangkat menjadi rektor Universitas Paramadina pada umur 38 tahun dan Prof. DR. Gumilar sebagai Rektor UI pada usia 44 tahun. Bahkan Prof. DR. Gumilar tercatat sebagai rektor termuda dalam sejarah UI.
Munculnya harapan terkait tokoh muda untuk memegang tongkat kepemimpinan tidak bisa dilepaskan dari adanya isu pembaharuan. Masyarakat sudah jenuh dengan figur lama, mereka merasa pergantian pemimpin dari tahun ke tahun sudah jumud, membosankan. Mereka butuh penyegaran. Kejenuhan ini memutar orientasi kepercayaan mereka untuk mencoba alternatif pemimpin. Di saat yang tepat munculah tokoh muda yang akhirnya menjadi tempat berlabuh harapan dan mimpi besar akan perubahan.
Memutar terus roda Reformasi dalam rangka me-reform Indonesia memerlukan kualitas prima dari gebrakan ide dan semangat. Sedangkan syarat seperti ini hanya muncul dari pemimpin yang enerjik. Pemimpin yang enerjik tidak akan pernah muncul tanpa adanya ruang kesempatan yang panjang dan luas yang diberikan kepada tokoh muda.
Bukan Masalah Kemampuan
Banyak wacana dan diskursus yang mempertanyakan kepemimpinan tokoh muda terkait kemampuan mereka. Argumentasi yang sering dipakai adalah kalau figur lama saja belum mampu menyelesaikan masalah kebangsaan yang pelik apalagi mereka yang miskin pengalaman dan baru saja menjadi pemimpin. Namun demikian tidaklah arif sekiranya diskursus itu justru berputar lebih kencang dari pada pemberian kesempatan dan dukungan pada pemuda itu sendiri untuk membangun dan memimpin. Pemberian kesempatan adalah salah satu solusi yang patut dilakukan sebagai upaya bersama membangun motivasi tokoh muda untuk berkarya dari pada debat kusir masalah kemampuan yang tak lebih justru malah menjatuhkan mental.
Kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai percaya dan memberi kesempatan tokoh mudanya untuk memimpin harus mulai dibangun. Pemuda harus diberikan kesempatan dalam merealisasikan idealismenya terhadap perbaikan lingkungan strategis yang melingkupinya. Dan di sinilah peran nyata tokoh muda dalam pembaharuan sebagai moral force dan agent of change (agen perubahan sosial) itu berwujud. Selama ini yang terjadi adalah munculnya pesimisme di tataran elit lama akan kepemimpinan tokoh muda. Jadi persoalanya bukan pada masalah kemampuan dan keunggulan dari tokoh muda untuk memimpin, namun lebih pada tidak diberikanya pilihan yang lebih luas kepada publik secara konsisten untuk memilih tokoh muda sebagai pemimpin.
Kemenangan HADE (Ahmad Heryawan) di Pilgub Jabar dan Syampurno (Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho) di Pilgub Sumsel adalah angin segar akan kepemimpinan tokoh muda. Seharusnya hal ini dapat meyakinkan elemen bangsa tentang kepercayaan masyarakat yang sudah mulai berorientasi untuk mencari alternatif figur muda sebagai pemimpin. Oleh karena itu sudah tidak layak lagi mempertanyakan kemampuan tokoh muda untuk memimpin, karena kini hanya masalah kesempatan dan kepercayaan.
Zaman ini adalah Zaman Kita!
Sangatlah tidak mudah untuk membangun kembali Indonesia. Negara yang pernah mendapat julukan dari salah satu majalah internasional sebagai " negara paling sulit bagi seorang Presiden" ini harus mulai sedikit demi sedikit diperbaiki secara koordinatif dan massif. Salah satu yang bisa dilakukan saat ini adalah para pemuda melakukan konsolidasi diri. Bagaimanapun tak akan pernah dicapai sebuah visi besar kepemimpinan kaum muda selama terjadi parsialisaasi; bekerja sendiri-sendiri. Menurut Pan Mohammad Faiz (Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia se-India) pada tahun 2007 tercatat mahasiswa Indonesia yang belajar di Australia ada 20.000, di Malaysia 26.000, di Mesir 5.000, di Jepang 1.500, di Amerika Serikat 13.000, di Inggris 3.000, dan puluhan ribu lainya tersebar di Eropa dan Afrika. Sehingga langkah yang tepat adalah bagaimana membangun jejaring di antara keterpisahan jarak tersebut. Pada konsolidasi tersebut perlu dibangun kesadaran pentingnya mereka yang melakukan studi di luar negeri untuk segera kembali ke tanah air ketika telah selesai belajar. Karena keberadaan mereka belajar di luar negri akan sangat bermanfaat ketika keahlian itu dikontribusikan untuk bisa mengisi pos-pos kepemimpinan dalam melakukan terobosan-terobosan dalam pembangunan Indonesia. Sebagaimana yang telah dilakukan para intelektual muda pendahulu kita yang menempuh pendidikan di Belanda, bersama Moh. Hatta mereka mendirikan Pendidikan Nasional dengan tujuan membangun basis pendidikan ilmu pengetahuan kepada segenap rakyat Indonesia (Nicholas Tarling, 1999).
Konsolidasi ini adalah sebuah keniscayaan, sebagaimana selalu dilakukan di berbagai belahan bangsa. Forum Ekonomi Dunia setiap tahunya mengumpulkan para tokoh muda. Sesi ini dinamakan Young Global Leader yang mengundang calon pemimpin bangsa berusia di bawah 40 tahun untuk berdiskusi terkait permasalahan kemasyarakatan global. Di Perancis tiap tahunya mengadakan Temu Pemuda Internasional (Recontres Internationales de Jeunes) dalam rangka membahas arah pergerakan mahasiswa dan kontribusinya tatkala mereka tengah belajar di seluruh penjuru dunia. Di tataran palemen Indonesia telah ada sekumpulan kaum muda yang mengorganisasaikan diri ke dalam "Kaukus Muda Parlemen Indonesia".
Abad ke-21 adalah abad kebangkitan dari tokoh muda, dimana ditandai dengan semakin berperanya tokoh muda dalam perubahan dunia. Sudah 10 tahun reformasi hingga saat ini bergulir, dan saatnya para pemuda menghimpun diri dalam barisan yang lebih rapi dan terarah untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera. Tepatlah apa yang dikatakan Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam bukunya: "Our Time is Now: young People Changing The Wolrd", dan premis "Yang Muda Yang Tidak Berdaya" tidak akan berlaku lagi!
Alfan Khusaeri, ST. (Sekretaris Umum DPD PKS Kota Surabaya)
Rabu, 30 April 2008
PKS dan Hizbut Tahrir
MENYIMAK kegiatan pemuda Muslim beberapa dasawarsa terakhir, saya semakin optimistis bahwa kiamat belum segera datang pada abad ini akibat tidak ada lagi orang yang bersedia memperjuangkan Islam. Wallahualam, hanya Allah Yang Mahatahu kapan tepatnya kiamat akan terjadi.
Tidaklah berlebihan apabila kita memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada generasi muda Muslim sekarang yang terus gigih melakukan perjuangan di tengah semakin gencarnya tekanan dari kalangan non-Muslim. Mereka, khususnya Barat, seperti tidak pernah berhenti mencari celah dan menunggu momentum umat Islam berbuat kesalahan dan anarkis. Begitu umat Islam terjebak, telunjuk mereka secara beramai-ramai akan menunjuk muka umat Islam sembari berteriak, "Terorissss…!"
Anton Winardi dalam bukunya Konsep Negara & Gerakan Islam Baru -- Menuju Negara Modern Sejahtera telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi penggambaran peta perjuangan dakwah kaum Muslimin, baik yang berjuang melalui pembentukan partai politik maupun pembentukan organisasi massa dan LSM. Anton berhasil secara apik melukiskan peta perbedaan maupun kesamaan antara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Hizbut Tahrir (HT).
Apresiasi banyak diberikan kepada para aktivis PKS dan HT. Mereka pada umumnya digambarkan sebagai generasi muda yang sangat peduli terhadap Islam dan menyadari sepenuhnya posisi kaum Muslimin yang sehasta demi sehasta dan sejengkal demi sejengkal menjadi kacung dan akhirnya menjadi "bancakan" masyarakat Barat. Kesadaran ini sangat penting, mengingat sejak bangsa Indonesia berkenalan dengan bangsa Barat empat abad yang lalu, mereka senantiasa memperlakukan bangsa ini tak lebih sebagai budak dan sapi perahan. Selama berabad-abad, mereka menjajah Indonesia dan negara-negara dunia ketiga. Lepas dari penjajahan secara teritorial, mereka kemudian memasang perangkap dengan berbagai pinjaman dan utang, sehingga pada akhirnya semua kekayaan milik bangsa ini mereka kuasai tanpa menyisakan sedikit pun untuk rakyat, kecuali kesengsaraan dan penderitaan. Tak pernah ada niat baik dari mereka kecuali mengajak masyarakat dunia ketiga masuk ke dalam lubang kadal sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad saw.
Anton dalam penelitiannya berhasil secara jernih membedakan antara PKS dan HT. PKS digambarkan sebagai partai yang beranggapan bahwa Islam dan negara tidak dapat dipisahkan, karena syariat Islam menyangkut seluruh aspek kemasyarakatan. Jalan yang ditempuh adalah dengan masuk ke dalam pemerintahan yang ada dan menjalankan setiap mekanisme yang telah ditetapkan. Walaupun demikian, setelah berganti nama menjadi PKS pada Pemilu 2004, partai ini dalam usulannya mengenai amendemen UUD 1945 Pasal 29 tidak lagi menganggap penting warisan Piagam Jakarta. PKS justru mengusulkan konsep yang menunjukkan kecenderungan pluralisme yaitu Piagam Madinah.
Sementara Hizbut Tahrir, menurut Anton (Minardi, 2008: 12-13), mengusulkan agar Islam dijadikan sebagai landasan pemerintahan dan negara, bahkan mengusulkan didirikan khilafah. Dalam merealisasikan gagasannya, HT menolak bergabung ke dalam sistem pemerintahan Indonesia yang ada, karena dianggap tidak sesuai dengan sistem Islam.
Kesamaan keduanya adalah, PKS dan HT melakukan perekrutan anggota dengan ajakan yang sifatnya persuasif, yang berangkat dari penyadaran akan eksistensi manusia sebagai khalifah beserta tugas-tugasnya dan memberikan pemahaman mengenai sistem Islam yang harus diterapkan dalam seluruh kehidupan manusia yang beriman. Perekrutan yang dilakukan dapat melalui acara formal partai maupun melalui berbagai kegiatan yang sifatnya penambahan wawasan, seperti seminar maupun kegiatan sosial. Dakwah dan pembinaan selanjutnya dilakukan secara terstruktur, baik secara materi maupun jenjang pembinaan sesuai dengan keaktifan dan loyalitas seseorang kepada partai.
Yang pasti, PKS dan HT membawa pemahaman yang relatif baru mengenai pemerintahan menurut Islam. PKS menerima terminologi demokrasi masuk ke dalam sistem pemerintahan dan membangun komunitasnya di tengah masyarakat dengan prinsip tarbiah. Sementara HT menolak konsep demokrasi Barat yang dianggap terlalu mengedepankan kebebasan individu yang dianggap menyimpang. Mereka mengampanyekan berdirinya khilafah Islam sebagai penggantinya dengan cara berjuang secara damai di luar sistem pemerintahan dengan melakukan dialog terbuka dan membangun komunitas di luar sistem. Gerakan PKS semakin mendapatkan tempat di berbagai kalangan di Indonesia, terutama kalangan intelektual dan ekonomi menengah.
Perbedaan antara PKS dan Hizbut Tahrir justru saling melengkapi. Perbedaan yang berhasil diidentifikasi bukan untuk dipertentangkan, melainkan masing-masing harus memainkan peran yang saling melengkapi demi `Izzul Islam Walmuslimin. Dalam hal ini saya teringat dengan Jujun S. Suriasumantri yang menulis buku Filsafat Ilmu. Beliau meminjam pemikiran Will Durant yang menjelaskan bahwa hubungan antara ilmu dan filsafat seperti pasukan marinir yang berhasil merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang di antaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang memenangi tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.
Demikian pula PKS dan HT, bagi saya, PKS adalah filsafat yang bertindak sebagai marinir yang harus merebut pantai hati masyarakat. PKS harus memberikan praktik dan contoh politik islami dan membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil `alamin yang mampu memberikan kesejahteraan lahir maupun batin. Jika praktik politik islami yang diperagakan PKS dapat menjadi solusi bagi bangsa Indonesia yang tengah mengalami krisis multidimensional, niscaya masyarakat semakin percaya dengan konsep Islam. Pada saat demikian, HT yang bertindak sebagai ilmu pengetahuan bagaikan pasukan infanteri. Kalau hati rakyat sudah direbut dengan Islam, apa pun namanya tentang sistem politik Islam akan diterima tanpa reserve.
Sembari terus meminta pertolongan kepada Allah SWT, kita harus senantiasa mewaspadai kemungkinan padamnya api perjuangan Islam sambil berharap dua gerakan yang semakin menampakkan hasil yang efektif. ***
H.M. Didi Turmudzi, dosen filsafat ilmu Program Doktor Ilmu Manajemen Universitas Pasundan.
Minggu, 27 April 2008
ITB Di Mataku
inputnya merupakan 5% pelajar terbaik di Indonesia. Ada juga yang mengatakan sebagai institut terbaik bangsa. Wah pokoknya banyak lagi.
Mungkin hal itu benar puluhan tahun yang lalu, namun sekarang harusnya dipertanyakan kembali. masih layakkah kampus ini diberi gelar-gelar itu. Kalau saya merasakan 4 (empat) tahun kuliah di itb prestasi yang diperlihatkan sebenarnya biasa-biasa saja. Kalau pun ada prestasi yang bagus tidak terlalu terdengar. Ada juga celotehan dari kawan kalau itb ga peduli sama mahasiswanya tapi kalau udah mahasiswa tsb menang baru pihak kampus pengen ikutan nimbrung. Belum lagi prestasi itb pada lomba-lomba yang diikuti tidak memberikan hasil yang baik. Bisa saya katakan bayar mahal tapi ga dapat apa-apa. Contoh sederhana lomba GALELOBOT yang tenyata dimenangkan semuanya oleh kampus-kampus luar itb seperti UGM, dan Gunadharma. Sama juga dengan lomba-lomba kemahasiswaan itb bisa dikatakan jarang sekali menang. Ini harusnya jadi pelajaran untuk kita semua.
Selain itu, banyak hal yang berubah di kampus ini sejak awala saya masuk hingga sekarang, bahkan cukup cepat perubahannya. Saat awal dulu tidak banyak saya lihat mobil dan motor di area parkir, tapi sekarang bahkan sampai tidak muat untuk parkir. Hal yang aneh dimana bangsa ini semakin miskin tapi ITB makin kaya.. Yah, itu mungkin salah satu penyebabnya adalah pihak itb atau bahkan mungkin elit-elit pendidikan yang semakin gila duit. Ada juga yang mengatakan disebabkan oleh digulirkannya BHMN. Kalau di lihat-lihat lagi ternyata jenjang SD, SLTP, dan SMA pun ada yang seperti itu.. Seperti judul bukunya Mas Eko Prasetyo, orang miskin dilarang sekolah.
Ada juga yang membuat saya miris melihat kampus ini yaitu kurang pedulinya mahasiswa terhadap lingkungan sekitar. Tidak perlu jauh-jauh, ga sedikit mahasiswa itb yang ga kenal tetangganya, bahkan tetangga kosnya, apalagi masyarakat. Kepedulian cuma di gembar-gemborkan lewat acara yang menurut saya ga nyambung bahkan bisa dikatakan percuma. Saya jadi ragu kebangkitan bangsa ini akan ada jika generasi masih seperti ini. Apatis.
Keberadaan itb sepertinya hampir tidak bermanfaat. Berbagai polemik di Bandung seharusnya bisa di atasi dimana banyak sekali orang-orang cerdas. Tapi kenyataannya tidak. Yang paling dekat adalah masalah sampah Bandung. lebih dekat lagi sebelah kampus kita. Apakah mahasiswa hanya dijadikan calon robot-robot industri? budak-budak perusahaan multinasional? mungkin saja.. Wah jadi salah kaprah sistem pendidikan kita. Semakin lama semakin kapitalis.
Yang paling parah adalah munculnya kaum hedon muda. Mungkin jaman dulu kaum priyayi. Orang-orang kelas atas yang ga peduli sekitarnya. Apakah hidup hanya untuk hura-hura, berpikir sempit, walau kita tahu anak itb cerdas-cerdas. Tapi apatis. Ga peduli dengan sekitarnya. Bisa-bisa bangsa ini sudah hancur kaum ini masih mikir yang enak-enak aja. Padahal itb dikenal sejak dulu sebagai kampus perjuangan.
Beberapa paragraf diatas merupakan bentuk sindiran terhadap ITB dan diri saya sendiri yang ada di dalamnya..Mudah-mudahan kita tidak menjadi orang yang makin hari makin tidak baik.. itulah orang-orang yang merugi.
Rabu, 09 April 2008
Bangkitlah Negriku Harapan Itu Masih Ada

Kalimat optimis dari sekumpulan orang-orang bervisi besar.. membangun negri ini karena cintanya.. tak pernah lelah walau berat menghadapinya..
Tampak berbeda penampilan Partai Keadilan Sejahtera yang lebih elegan, terbuka, dan lebih bisa diterima semua orang, semua kalangan. Ditambah dengan motto barunya Bersih, Peduli, dan Profesional menampakkan lebih besar harapannya untuk membangun negri ini. Salah satu penstimulus tampaknya wajah baru PKS adalah Munas PKS di Bali beberapa saat lalu. Berusaha menjadi partai yang lebih terbuka, lebih merakyat, lebih mendengar, dan tentu saja lebih banyak amalnya..
Mudah-mudahan dengan tampilan baru PKS yang lebih elegan ini bisa menjadi pemantik untuk kebangkitan bangsa Indonesia..
Bangkitlah Negriku Harapan Itu Masih Ada..
Jumat, 18 Januari 2008
Islam, Politik, dan Demokrasi
Masyarakat Indonesia secara umum telah menganggap bahwa Islam dan politik sangatlah tidak berkaitan. Islam hanya menjadi sesuatu yang hanya dimiliki orang atau sekelompok orang saat memasuki lingkup masjid dan pesantren saja, sama sekali tidak berhubungan dengan politik dan kenegaraan. Wajar saja ada anggapan bahwa seorang ulama/pendakwah yang bermain di politik sudah tidak layak lagi disebut sebagai ulama atau bahkan dijauhi, karena masyarakat beranggapan bahwa politik itu bukan lahan yang layak untuk di-Islamkan.
Tetapi masih ada masalah saat ini, sudahkah para pemimpin-pemimpin Islam mampu membuktikan kemampuan dalam memimpin bangsa? Jangan-jangan hal ini yang masih menjadi kendala pemimpin-pemimpin Islam dalam menggapai kepercayaan dari masyarakat. Maka sudah saatnya memunculkan pemimpin-pemimpin Islam yang mumpuni dan dipercaya masyarakat di alam demokrasi ini.
Oleh:
Aan Setiawan Mahasiswa Teknik Fisika ITB
Senin, 07 Januari 2008
Bangun dari Mimpi "Republik Mimpi"

Saat melihat televisi mendengar tawaan terhadap negeri ini, saya tersenyum kecut. Bagaimana tidak bangsa yang dipijak ditertawai sendiri. Saya melihat tawaan tersebut bukannya membangun tapi hanya jadi ajang kritik "tawa" kosong. Tidak memberikan manfaat nyata, hanya kepuasan "menertawai diri sendiri". Belum lagi kata-kata yang dikeluarkan cukup menusuk terkadang untuk diri sendiri. Saya ingin bertanya apakah yang berbicara menyadari ia adalah bagian dari republik nyata ini?? Apakah ia senang negeri ini spserti ini?? Apa nggak ada kerjaan lain yang lebih jelas?? Wajar saja muncul puisi Tufik Ismail "Malu Aku Jadi Orang Indonesia"...
Sepertinya harus kita matikan televisi dan bangun untuk membangun negeri ini bukan menertawainya. Bukan duduk dan menghipnotis diri dengan suguhan yang hanya memuaskan nafsu tawa kosong..
Mari bangun bangsa ini dengan segenap potensi kita.. kerahkan potensi terbaik yang kita miliki untuk kesejahteraan bangsa..
Berpikir berbeda untuk membangun bangsa..
Jumat, 28 Desember 2007
Palestina
Ketidakadilan telah menjadi hal biasa di negeri para Nabi ini. Merka telah terbiasa diancam, dikucilkan, bahkan dibunih. Hal itu tidak membuat perjuangan mereka untuk lepas dari tirani penjajahan Israel melemah. Belum lagi dengan adanya HAMAS sebagai kelompok yang berusaha keras memperjuangkan kemerdekaan Palestina walau dituduh para lawannya sebagai ancaman internasional bahkan teroris. Padahal mereka hanya berusaha melepaskan diri dari penjajahan Israel. Sungguh tidak adil.
Kita tahu bahwa HAMAS sendiri telah memenangkan Pemilu secara demokratis. Mereka memperoleh 75 dari 132 kursi, namun apa yang terjadi, Washington dan konco-konconya malah membekukan bantuan, belum lagi Israel yang makin parah menyerang kantong-kantong penduduk sipil di Palestina. Yah perjuangan Ismael Haneya (PM Palestina) dan kawan-kawan HAMAS dalam mengambil hak kemerdekaan haruslah didukung dunia internasional, namun kenyataannya malah pemerintah di negera-negara yang ada malah menusuk dari belakang dengan mendukung kemunafikan Amerika.
Hal yang paling bodoh yang saya dengar adalah pernyataan Hasan Wirajuda Mentrei Luar Negeri Indonesia yang malah mendukung kemunafikan Amerika. Bangsa ini lupa, bahwa perjuangan untuk merdeka adalah sesuatu yang patut didukung. Padahal, kemerdekaan bangsa kita juga di bantu oleh dukungan negara-negara muslim disaat negara-negara barat tidak mau mengakui kemerdekaan kita.
Hal ini bukan yang pertama, pernah juga kita menusuk dari belakang pemerintahan Iran yang sekali lagi terkena dampak konspirasi kemunafikan Amerika.
Palestina.. negeri para pejuang yang tak pernah lelah.. tak pernah ingin dipuji.. mereka hanya ingin merdeka dari tirani..
Ketidakadilan Internasional
Palestina telah menjadi bulan-bulanan para penjajah. Israel bersama Amerika Serikat telah membuat rusaknya tatanan negeri-negeri Arab. Bahkan negara-negara Arab sendiri di buat tak berdaya oleh Amerika.
Umat muslim seluruh dunia yang mengecam penjajahan oleh 2 “saudara” itu tak pernah didengarkan. Semua keputusan mereka adalah mutlak dan seolah itulah yang paling benar. Gaya otoriter model baru. Belum lagi PBB yang tidak bisa menyentuh masalah ini bahkan tidak berdaya dibuatnya.
Lucunya setelah Pemilu Palestina dimenangkan oleh HAMAS secara demkratis ternyata malah membuat Amerika Serikat dan konconya geram dan berani menghantam HAMAS dengan dalih terorisme, belum lagi pembekuan bantuan. Seungguh negara yang menyatakan sebagai pionir demokrasi telah menjadi “sangat tidak demokratis” di mata kita.
Belum lagi peristiwa yang tak akan kita lupa yaitu invasi Amerika dan sekutunya ke Irak. Menuduh bahwa irak memiliki senjata biologis ternyata tak terbukti, malah membuktikan bahwa Amerika-lah yang sengaja ingin menguasai minyak di negeri-negeri Arab.
Sepertinya gaya munafik Amerika sudah tidak ada yang meragukannya, namun anehnya sebagian besar negara malah mendukungnya. Saya berpikir ini adalah peran dari para “pemain catur politik” internasional yang tak ingin adanya kekuatan ideologi lain yang dirasa dapat menghancurkan tatanan yang telah mereka buat.